Pernah ketika menonton Catatan Harian Si Boy, ada kutipan yang mengatakan,"teman adalah keluarga yang kita pilih, dan keluarga adalah nasib kita" jika dipikir-dipikir memang, karena pada dasarnya tidak semua masalah dan unek-unek bisa dibicarakan dengan keluarga.
Teman sangat mengerti sikap dan watak asli saya sebenarnya. Jika di rumah saya sering diam,dan tidak pernah keluar bermain bersama teman sebaya saya, maka berbeda saat saya bersama teman, saya sangat ramai dan banyak bicara.
Terkadang saya lebih nyaman bersama dengan teman disuatu situasi tertentu, dibandingkan bersama keluarga saya sendiri, tapi bukan berarti saya tidak nyaman dengan keluarga saya. Jika saya boleh memilih, saya ingin bertetangga dengan semua teman-teman saya, pasti setiap harinya saya tidak merasa sepi dan bosan.
Pernah baca suatu kutipan dari Ali bin Abi Thalib, "Manusia yg paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari teman,namun lebih lemah jika dia banyak teman tapi menyia-nyiakannya dalam kebaikan", sudahkah kalian mengajak teman kalian dalam hal kebaikan?
Saturday, January 23, 2016
Tuesday, November 3, 2015
Review nonton Ayah Menyayangi Tanpa Akhir
Pertama kali lihat playlist coming soon film Ayah Menyayangi Tanpa Akhir (disingkat AMTA) dari website 21cineplex, saya sudah tertarik dengan film ini. Gak tau kenapa saya saat itu pengen sekali nonton film mengharukan, setelah beberapa bulan lalu nonton film My Idiot Brother yang mampu menguras air mata saya.
Film AMTA rilis pada Kamis, 29 Oktober 2015, dan saya berkesempatan menonton film ini pada Sabtu, 31 Oktober 2015. Yah.. walaupun nontonnya pada jadwal weekend dan harga tiketnya lumayan mahal, saya tetap belain menonton film ini.
Terimakasih buat adek kelas saya yang mau saya culik buat nemenin saya nonton film ini, hahaha. Saya agak kaget melihat begitu minimnya penonton pada film-film Indonesia, padahal saat itu playlist film Indonesia di 21cineplex termasuk film-film yang layak ditonton, daripada film-film Indonesia dulu yang mengandalkan penampilan artis-artis panas, ckckckk.
Oke, film ini dibuka dengan perjuangan Juna, seorang anak bungsu yang lahir dari keluarga yang sangat memperhatikan adat. Juna saat itu membawa calon istrinya, Keisha. Hubungan Juna dan Keisha ditolak mentah-mentah oleh keluarga Juna, akhirnya Juna memutuskan untuk menikah dengan Keisha tanpa restu keluarganya. Juna dan Keisha hidup bahagia, namun naas, saat akan melahirkan anak pertamanya, Keisha meninggal.
Kematian Keisha membuat Juna benar-benar menjaga Mada, buah hati miliknya dan Keisha, Mada tumbuh menjadi seorang remaja yang aktif dan energik, menyukai Go Kart. Sebenarnya Juna takut ketika Mada sedang balap, namun karena itu adalah hobi putra satu-satunya, Juna merelakan Mada bermain dengan hobinya tersebut. Ketika tengah bermain, tiba-tiba Mada merasakan sakit amat sangat dikepalanya. Juna yang berada ditempat tersebut langsung membawa Mada ke Rumah Sakit.
Mada divonis oleh dokter menderita Kanker Otak, namun Juna bersihkeras tidak mau mengoperasi Mada dikarenakan tidak mau melihat Mada kesakitan. Dengan pengetahuannya tentang obat (karena Juna adalah seorang Farmasi) Juna berusaha menyembuhkan Mada dengan obat yang ia racik sendiri. Setiap Mada kesakitan, Juna memeluk Mada dengan kuat, seakan mau berbagi rasa sakit dengan Mada.
Film ini benar-benar menguras air mata, dari awal film ini saya sudah menangis melihat bagaimana susahnya perjuangan Mada merawat putranya sendiri, ditambah lagi dengan sikap Mada yang terkadang melawan karena Juna yang terlalu protektif mendidiknya. Entah kenapa saya menangis melihat film ini, mungkin karena saya teringat bagaimana saya bersikap kepada kedua orang tua saya.
Ada dua hal kejanggalan dalam film ini, pertama adalah saat adegan Juna dan Mada melihat Candi Prambanan, kenapa menggunakan green screen? Mungkin memang saat syuting film dilaksanakan, terlalu jauh untuk melaksanakan syuting berlatar Candi Prambanan, tapi toh tidak perlu di green screen juga kan? Mungkin bisa diakali dengan setting indoor atau apa. Kedua, adegan saat Mada meninggal entah kenapa rasanya biasa saja, entah apa yang kurang, setidaknya rasanya saat Mada meninggal benar-benar biasa saja.
Oke fine, begitu saja sedikit review tentang film AMTA, film ini kalau saya nilai 80 lah dari 100, karena film ini mampu menguras emosi saya dan menguras air mata saya, leher saya sampai basah loh saat keluar bioskop. Hehehe.., tinggalkan komentar ya. :D
Film AMTA rilis pada Kamis, 29 Oktober 2015, dan saya berkesempatan menonton film ini pada Sabtu, 31 Oktober 2015. Yah.. walaupun nontonnya pada jadwal weekend dan harga tiketnya lumayan mahal, saya tetap belain menonton film ini.
Terimakasih buat adek kelas saya yang mau saya culik buat nemenin saya nonton film ini, hahaha. Saya agak kaget melihat begitu minimnya penonton pada film-film Indonesia, padahal saat itu playlist film Indonesia di 21cineplex termasuk film-film yang layak ditonton, daripada film-film Indonesia dulu yang mengandalkan penampilan artis-artis panas, ckckckk.
Oke, film ini dibuka dengan perjuangan Juna, seorang anak bungsu yang lahir dari keluarga yang sangat memperhatikan adat. Juna saat itu membawa calon istrinya, Keisha. Hubungan Juna dan Keisha ditolak mentah-mentah oleh keluarga Juna, akhirnya Juna memutuskan untuk menikah dengan Keisha tanpa restu keluarganya. Juna dan Keisha hidup bahagia, namun naas, saat akan melahirkan anak pertamanya, Keisha meninggal.
Kematian Keisha membuat Juna benar-benar menjaga Mada, buah hati miliknya dan Keisha, Mada tumbuh menjadi seorang remaja yang aktif dan energik, menyukai Go Kart. Sebenarnya Juna takut ketika Mada sedang balap, namun karena itu adalah hobi putra satu-satunya, Juna merelakan Mada bermain dengan hobinya tersebut. Ketika tengah bermain, tiba-tiba Mada merasakan sakit amat sangat dikepalanya. Juna yang berada ditempat tersebut langsung membawa Mada ke Rumah Sakit.
Mada divonis oleh dokter menderita Kanker Otak, namun Juna bersihkeras tidak mau mengoperasi Mada dikarenakan tidak mau melihat Mada kesakitan. Dengan pengetahuannya tentang obat (karena Juna adalah seorang Farmasi) Juna berusaha menyembuhkan Mada dengan obat yang ia racik sendiri. Setiap Mada kesakitan, Juna memeluk Mada dengan kuat, seakan mau berbagi rasa sakit dengan Mada.
Film ini benar-benar menguras air mata, dari awal film ini saya sudah menangis melihat bagaimana susahnya perjuangan Mada merawat putranya sendiri, ditambah lagi dengan sikap Mada yang terkadang melawan karena Juna yang terlalu protektif mendidiknya. Entah kenapa saya menangis melihat film ini, mungkin karena saya teringat bagaimana saya bersikap kepada kedua orang tua saya.
Ada dua hal kejanggalan dalam film ini, pertama adalah saat adegan Juna dan Mada melihat Candi Prambanan, kenapa menggunakan green screen? Mungkin memang saat syuting film dilaksanakan, terlalu jauh untuk melaksanakan syuting berlatar Candi Prambanan, tapi toh tidak perlu di green screen juga kan? Mungkin bisa diakali dengan setting indoor atau apa. Kedua, adegan saat Mada meninggal entah kenapa rasanya biasa saja, entah apa yang kurang, setidaknya rasanya saat Mada meninggal benar-benar biasa saja.
Oke fine, begitu saja sedikit review tentang film AMTA, film ini kalau saya nilai 80 lah dari 100, karena film ini mampu menguras emosi saya dan menguras air mata saya, leher saya sampai basah loh saat keluar bioskop. Hehehe.., tinggalkan komentar ya. :D
Tuesday, July 29, 2014
PENGALAMAN CABUT GIGI GRAHAM BUNGSU DENGAN BPJS
Awalnya saya merasa sakit gigi pada tahun 2013 lalu dan sudah periksa sama dokter gigi, katanya gigi saya miring dan harus segera di oprasi, namun dokter gigi saya tersebut memberi antibiotik dan pereda nyeri, dan Alhamdulillah gigi saya tidak sakit lagi dan saya mengabaikan oprasi tersebut. Namun beberapa bulan lalu gigi saya sakit lagi, saya kira gusi saya bengkak, kemudian saya minum "cataflam 50" dan "amoxilin" sudah sembuh. Namun ketika bulan April gigi saya sakit lagi, saya minum catflam lagi sudah hilang sakitnya, namun beberapa jam lagi sakit lagi. Karena penasaran saya ke dokter gigi dekat rumah saya, dan ternyata benar analisis dokter gigi saya beberapa tahun muncul lagi, gigi graham saya tumbuh miring dan harus segera di oprasi. Tak puas dengan analisis dokter gigi tersebut, saya pergi ke dokter gigi yang sedikit jauh dari rumah saya, dan hasil analisisnya pun tetap sama, namun saya dianjurkan untuk ronsen gigi lokal terlebih dahulu.
Setelah melakukan ronsen lokal, akhirnya saya disarankan mencabut gigi graham saya yang dibagian kanan belakang. Dokter memberi tahu saya bahwa harga untuk oprasi gigi adalah Rp. 3juta, wow, saya kan masih mahasiswa, dengan dana sekian saya tidak mungkin sanggup membayarnya. Saya baru ingat kalau saya punya BPJS Mandiri, dan paginya saya ke puskesmas (faskes tingkat 1) dan dokter gigi puskesmas memberi saya surat rujukan ke RSUD Ibnu Sina Gresik. Buat kalian yang menggunakan BPJS saat rujukan, jangan lupa ya kalian harus menyiapkan berlembar-lembar fotocopy surat rujukan, ktp, dan kartu BPJSnya, karena memang harus mengikuti prosedur yang ada. Setelah diperiksa oleh dokter gigi di poli gigi tersebut, dan memang harus dioprasi, tapiiii.. ternyata RSUD Ibnu Sina tidak memiliki dokter gigi spesialis bedah mulut. Saya sangat kecewa, bagaimana tidak, di RSUD tidak ada dokter spesialis bedah mulutnya, dan alhasil saya dirujuk lagi ke RSUD Dr. Soetomo di Surabaya, jauh memang terpaksa saya harus meminta izin ke tempat kerja sambilan dan kampus.
Hari Jum'at, 16 Mei 2014
Saya berangkat dari rumah setelah shubuh dan sampai di RSUD Dr. Sutomo pukul 6.00 dan antri verivikasi BPJSnya.. buannyaak banget, saya saja mendapat nomor antrian ke 300. Pukul 8.00 saya sudah selesai, kemudian saya fotocopy lagi berkas rujukan,nomor rekam medis, ktp, dan bpjsnya saya bawa ke poli gigi, saya disuruh menunggu sebentar. Setelah dipanggil, saya diperiksa terlebih dahulu oleh dokter gigi umum yang usianya sekitar 40an, dan kata beliau kemungkinan gigi saya yang impaksi ada juga di bagian kiri. Kemudian beliau menyuruh saya masuk ke poli spesialis, dan diperiksalah saya oleh dokter gigi spesialis bedah mulut. Analisis beliau juga sama, kemungkinan ada gigi impaksi di atas atau di bagian kiri, saya disarankan melakukan ronsen panoramic. Setelah bolak balik ke Ruang radiologi dan Ruang Poli Gigi (karena butuh tandatangan dokter dan stempel poli gigi, ribet kan?) Diketahui bahwa gigi saya impaksi ada dua, di kanan bawah dan kiri bawah. Namun setelah diperiksa disarankan dokternya bahwa yang dioprasi kiri terlebih dahulu. Setelah mendapatkan jadwal oprasi (3 minggu setelah pemeriksaan) saya pulang dan diberi saran agar menyikat gigi dengan pasta gigi enzim dan kumur dengan obat kumur apa saja.
4 Juni 2014
Tibalah oprasi gigi graham tersebut, sebelumnya saya ditensi darah, dan tekanan darah saya cukup tinggi (maklum takut) dokter gigi menunda beberapa menit, setelah sekitar 10 menit saya langsung dibawa ke ruang steril. Muka saya ditutup dengan kain hijau yang lubangnya hanya di mulut, kemudian gusi saya disuntik, mujlut saya diolesi obat bius. Rasanya bibir ini tebel dan sedikit mati rasa. Dokter yang menangani saya ada 2 yang satu dokter gigi umum (usianya sekitar 40an) dan dokter spesialis bedah mulut (yang usianya sekita 25, terlalu muda untuk usia dokter gigi spesialis).
Kemudian dimulailah oprasinya, selama saya di oprasi bibir saya rasanya diobok-obok, di bor, tidak terasa memang, namun terkadang efek biusnya habis dan berasa banget sakitnya. Setelah berlangsung sekitar 2 jam, saya lihat gigi saya terpotong menjadi empat bagian, gusi saya dijahit dan diberi kassa steril. Saya melihat dicermin, pipi sebelah kanan saya terlihat bengkak dan tembem. Saya dianjurkan meminum es krim dan mengompres pipi kanan dengan es batu agar pendarahannya berhenti. Alhamdulillah setelah 10 hari pipi saya sudah terlihat normal kembali, dan jahitan gusi, saya mendatangi dokter Puskesmas untuk membuka jahitannya. Namun, makanan yang saya konsumsi selama 2 minggu adalah bubur bayi, mie over matang, atau nasi lunak.
Nah, untuk pembaca, saran saya lebih baik segeralah mencabut gigi yang impaksi, karena kata dokter, kasihan gigi depannya, bisa berlubang dan terdorong ke depan bersamaan dengan gigi lain. Jangan bingung dan kecewa dengan alur BPJS yang mungkin membingungkan, tapi itulah prosedurnya. Sampai tulisan ini saya tulis, gigi saya sebelah kiri belum dioprasi dan menunggu oprasinya akhir bulan Agustus. Eits, jangan lupa selalu kontrol gigi setiap 6 bulan sekali ya. :)
#Review oprasi gigi impaksi BPJS
Setelah melakukan ronsen lokal, akhirnya saya disarankan mencabut gigi graham saya yang dibagian kanan belakang. Dokter memberi tahu saya bahwa harga untuk oprasi gigi adalah Rp. 3juta, wow, saya kan masih mahasiswa, dengan dana sekian saya tidak mungkin sanggup membayarnya. Saya baru ingat kalau saya punya BPJS Mandiri, dan paginya saya ke puskesmas (faskes tingkat 1) dan dokter gigi puskesmas memberi saya surat rujukan ke RSUD Ibnu Sina Gresik. Buat kalian yang menggunakan BPJS saat rujukan, jangan lupa ya kalian harus menyiapkan berlembar-lembar fotocopy surat rujukan, ktp, dan kartu BPJSnya, karena memang harus mengikuti prosedur yang ada. Setelah diperiksa oleh dokter gigi di poli gigi tersebut, dan memang harus dioprasi, tapiiii.. ternyata RSUD Ibnu Sina tidak memiliki dokter gigi spesialis bedah mulut. Saya sangat kecewa, bagaimana tidak, di RSUD tidak ada dokter spesialis bedah mulutnya, dan alhasil saya dirujuk lagi ke RSUD Dr. Soetomo di Surabaya, jauh memang terpaksa saya harus meminta izin ke tempat kerja sambilan dan kampus.
Hari Jum'at, 16 Mei 2014
Saya berangkat dari rumah setelah shubuh dan sampai di RSUD Dr. Sutomo pukul 6.00 dan antri verivikasi BPJSnya.. buannyaak banget, saya saja mendapat nomor antrian ke 300. Pukul 8.00 saya sudah selesai, kemudian saya fotocopy lagi berkas rujukan,nomor rekam medis, ktp, dan bpjsnya saya bawa ke poli gigi, saya disuruh menunggu sebentar. Setelah dipanggil, saya diperiksa terlebih dahulu oleh dokter gigi umum yang usianya sekitar 40an, dan kata beliau kemungkinan gigi saya yang impaksi ada juga di bagian kiri. Kemudian beliau menyuruh saya masuk ke poli spesialis, dan diperiksalah saya oleh dokter gigi spesialis bedah mulut. Analisis beliau juga sama, kemungkinan ada gigi impaksi di atas atau di bagian kiri, saya disarankan melakukan ronsen panoramic. Setelah bolak balik ke Ruang radiologi dan Ruang Poli Gigi (karena butuh tandatangan dokter dan stempel poli gigi, ribet kan?) Diketahui bahwa gigi saya impaksi ada dua, di kanan bawah dan kiri bawah. Namun setelah diperiksa disarankan dokternya bahwa yang dioprasi kiri terlebih dahulu. Setelah mendapatkan jadwal oprasi (3 minggu setelah pemeriksaan) saya pulang dan diberi saran agar menyikat gigi dengan pasta gigi enzim dan kumur dengan obat kumur apa saja.
4 Juni 2014
Tibalah oprasi gigi graham tersebut, sebelumnya saya ditensi darah, dan tekanan darah saya cukup tinggi (maklum takut) dokter gigi menunda beberapa menit, setelah sekitar 10 menit saya langsung dibawa ke ruang steril. Muka saya ditutup dengan kain hijau yang lubangnya hanya di mulut, kemudian gusi saya disuntik, mujlut saya diolesi obat bius. Rasanya bibir ini tebel dan sedikit mati rasa. Dokter yang menangani saya ada 2 yang satu dokter gigi umum (usianya sekitar 40an) dan dokter spesialis bedah mulut (yang usianya sekita 25, terlalu muda untuk usia dokter gigi spesialis).
Kemudian dimulailah oprasinya, selama saya di oprasi bibir saya rasanya diobok-obok, di bor, tidak terasa memang, namun terkadang efek biusnya habis dan berasa banget sakitnya. Setelah berlangsung sekitar 2 jam, saya lihat gigi saya terpotong menjadi empat bagian, gusi saya dijahit dan diberi kassa steril. Saya melihat dicermin, pipi sebelah kanan saya terlihat bengkak dan tembem. Saya dianjurkan meminum es krim dan mengompres pipi kanan dengan es batu agar pendarahannya berhenti. Alhamdulillah setelah 10 hari pipi saya sudah terlihat normal kembali, dan jahitan gusi, saya mendatangi dokter Puskesmas untuk membuka jahitannya. Namun, makanan yang saya konsumsi selama 2 minggu adalah bubur bayi, mie over matang, atau nasi lunak.
Nah, untuk pembaca, saran saya lebih baik segeralah mencabut gigi yang impaksi, karena kata dokter, kasihan gigi depannya, bisa berlubang dan terdorong ke depan bersamaan dengan gigi lain. Jangan bingung dan kecewa dengan alur BPJS yang mungkin membingungkan, tapi itulah prosedurnya. Sampai tulisan ini saya tulis, gigi saya sebelah kiri belum dioprasi dan menunggu oprasinya akhir bulan Agustus. Eits, jangan lupa selalu kontrol gigi setiap 6 bulan sekali ya. :)
#Review oprasi gigi impaksi BPJS
Thursday, June 6, 2013
CARA AMPUH DAN AMAN TUNTASKAN RAMBUT BERKETOMBE DAN BERKUTU
Awalnya
saya kasihan pada adik sepupu saya, dia perempuan umur 14 tahun. Setiap harnya
dia memakai jilbab, tapi selalu menggaruk kepalanya. Kata ibunya pun, ketika
malam dia selalu menggaruk kepalanya. Karena kasihan, saya mencari cara-cara di internet agar kutu dan
ketombenya bisa hilang, mulai dari memberi minyak sirih, minyak kayu putih,
kapur semut dan peditox, tapi tetap hasilnya nihil. Akhirnya ibunya pun putus
asa, mungkin karena pengaruh dia bermain bersama teman-temannya ketika siang
terik.
Namun
sewaktu saya belanja di supermarket saya tidak sengaja melihat kemasan belakang
DETTOL, disitu tertulis jika DETTOL dapat memelihara rambut dari ketombe. Langsung
saja saya membeli DETTOL ukuran 250 ml. setibanya di rumah, saya menyuruh tante
saya agar membasuh rambut sepupu saya dengan 250ml air dingin dan larutan 1
tutup botol DETTOL. Kemudian rambut sepupuku itu dipijat dan dibilas
menggunakan air larutan DETTOL tersebut. Setelah 15 menit, sepupu saya
merasakan ringan di rambutnya, ternyata benar, kutu dan ketombenya mati di
ember yang berisi larutan DETTOL tersebut.
Subscribe to:
Posts (Atom)





